Sayamau memiliki usaha, tapi saya bingung harus mulai dari mana. Oh ya, Gunna benar-benar membawa rejeki, sejak dia ada sampai sekarang tak henti-henti saya diberi rejeki sampai saya tidak bisa berkata2😭. Saat ini kami memiliki usaha warung sembako yang cukup ramai di kampung. Sama kaya sekolah, disuruh bayar jutaan rupiah hanya Sayasendiri sudah tidak bisa menghitung berapa banyak usaha atau bisnis yang pernah saya buka namun belum berhasil sebelum saya buka Mr. Teto. Resep Boleh Sama, Brand Identity Tidak Bisa Ditiru 07:31; Bale Kanoman: Yang Penting Mau Usaha, Resep Bisa Ditiru, Tapi Tenang Saja Rejeki Sudah Digariskan 03:01; Namunada cara lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan bonus lebih tinggi dari staking. Jika anda menetapkan koin PoS Anda untuk dikunci dalam periode 7 hari hingga 90 hari, Anda bisa mendapatkan hadiah yang lebih tinggi. Pada dasarnya, sama seperti dengan Tabungan fleksibel vs Tabungan tetap hanya saja dengan tambahan format Staking. Bundajuga, semoga ga galau lagi ya sama pilihannya. Alloh itu Maha Baik bund. kalau cerita uang, jujur gaji suamiku saat ini belum cukup karena habis buat cicilan ini itu. Memang agak ga 'masuk akal' kami bisa bertahan hidup dengan uang segitu. Tapi ga tau dari mana jalannya, pas butuh sesuatu adaaaa aja rejeki. Yang penting kita ada usaha aja. Jikaanda ingin memulai bisnis, perlu diketahui setiap bisnis pasti memerlukan modal. Tapi modal itu tidak selalu berbentuk uang. Bisa dengan keahlian dan waktu. Modal uang sendiri adalah modal yang paling mudah didapatkan karena banyak orang yang memilikinya. Tetapi keahlian dan waktu adalah hal yang tidak bisa dimiliki oleh semua orang, oleh Kembalike usaha kontrakan rumah tanpa modal, jika kita telah memiliki hubungan kerjasama dengan pemilik tanah dan pemilik bangunan, maka kita sudah bisa menjalankan bisnis usaha tanpa modal. Tantanganya hanya tentang meyakinkan sang pemilik untuk diajak bekerja sama. Tipsnya, carilah pemilik tanah dan property rumah yang tidak sempat mengurus . Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Banyak yang bilang, untuk apa "ngoyo", toh rejeki sudah ada yang mengatur. Semua sudah digariskan oleh Pencipta,Saya tidak terlalu mengerti dengan apa itu takdir atau bukan mahluk satu satunya yang bisa beragama, yaitu manusia, apalagi kita hidup di negara yang memiliki dasar Pancasila, maka sudah pasti kita memeluk dan memegang teguh prinsip prinsip KeTuhanan dan percaya pada Pencipta dan segala ajaranNya. Namun tentang takdir, atau garis hidup, hmmmmm saya tidak terlalu tahu soal itu. Bukan saya tidak percaya Takdir, karena semua adalah Misteri Ilahi. Namun saya sangat menyukai pepatah yang mengatakan "TERLAHIR DARI KELUARGA MISKIN ITU MUNGKIN TAKDIR, TAPI KALAU MATI DALAM KEADAAN MISKIN ITU ADALAH KEBODOHAN" Maaf saya tidak tahu siapa yang menulis quote ajaib ini, jempol saya 2 untuk penulisnya.Seringkali mudah bagi saya untuk menyalahkan takdir, karena takdir, karena takdir. Menyalahkan Pencipta kalau perlu , untuk semua nasib buruk yang saya dapat kerja, sulit dapat kerja, salahkan pemerintah, salahkan pengusaha, bahkan salahkan tahukan kita, bahwa ada banyak kebiasaan kebiasaan kecil kita yang turut menjadi andil dalam garis hidup kita? Seperti, terbiasa bermalas malasan saat sekolah, tidak berdisplin, suka berbohong, suka abai, suka emosi, tidak bisa bertanggung jawab, dan dll dll dll yang buruk yang kita rasa biasa saja , ah kan cuma segitu aja, namun menjadi penghalang kita dalam mencari rejeki ?Apakah saat ada pekerjaan , uang mudah datang, kita ingat menabung, ingat mengasuransikan kesehatan kita, ingat berinvestasi, atau bila gaji pas pasan, apakah kita ingat paling tidak untuk sedikit sedikit beramal sedekah ?Saya tidak tahu soal karma, nasib buruk, atau petaka yang mungkin datang bertubi tubi, sehingga membuat kita merasa berhak menyalahkan Pencipta, kenapa sebegini buruk nasib saya, dsb dsb sekali lagi saya memang tidak mengerti konsep keadilan , otak saya terlalu kecil untuk memahami misteri soal takdir atau keadilan saya tahu, bila kita melakukan sesuatu sebaik yang kita bisa hari ini, semampu kita, cukuplah kita syukuri semua itu, apapun hasilnya. Susah , senang, semua akan berakhir. Karena sesenang atau sesusah apapun , hidup hanya 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu dan ada saatnya kita akan mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan. Tidak tahu seberapa banyak uang kita, atau seberapa sedikit uang kita, dengan cara apa kita mendapatkan uang, halalkah, korupsikah, curangkah, semua tetap berakhir sama, semua pada akhirnya akan ke topik apakah Rejeki itu takdir atau usaha ?Saya tidak tahu, dan tidak mau tahu, saya hanya tahu satu kata, sebaik baiknya takdir mengatur, pada akhirnya bukan seberapa "Kaya" atau "miskin" kita , tapi seberapa besar "usaha" dan "sumbangsih" kita dalam hidup ini. Apa yang sudah kita lakukan. Jadi kata takdir dan usaha menjadi sebuah kesatuan, kemanapun takdir membawa saya pergi, maka yang perlu saya lakukan adalah, melakukan apa yang saya bisa hari ini, dengan sebaik mungkin, sesuai dengan apa yang saya mampu.Ahhhhh andai praktek semudah teori yang saya tulis, tentu saya tidak hanya menjadi kampret yang sedang semedi .... 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya

usaha boleh sama tapi rejeki tidak